Mbaru Gendang adalah rumah adat tradisional masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur yang berbentuk kerucut dengan makna simbolik yang mendalam sebagai pusat kebudayaan, tempat bermusyawarah, dan rumah bagi arwah nenek moyang. Nama “Mbaru gendang” diambil dari kata dalam bahasa Manggarai yaitu “Mbaru” berarti rumah, dan “Gendang” berarti alat musik tradisional yang terbuat dari kayu dan kulit kambing. Sehingga secara harfiah, Mbaru Gendang adalah rumah yang menyimpan alat musik gendang dan digunakan sebagai pusat kegiatan adat. Bangunan ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan ritual adat, serta lambang persatuan dan kesatuan masyarakat Manggarai.
CIRI-CIRI FISIK
Terdapat Atap Bentuk Kerucut: Dindingnya melingkar dan ditopang oleh tiang-tiang kayu besar, sementara atapnya terbuat dari ijuk yang disusun rapi, menciptakan bentuk kerucut yang unik dengan tinggi kurang lebih 15 meter. menyimpan filosofi persatuan dan kesatuan, mirip dengan bentuk kampung (beo) dan halaman (natas) di Manggarai.
Terdapat Siri Bongkok: Tiang penyangga atau tiang utama di tengah rumah yang kokoh, melambangkan persatuan dan hubungan kuat dengan Sang Pencipta.
Terdapat Siri Lélés: Tiang pendamping di sisi Siri Bongkok, melambangkan gotong royong atau kerja sama antaranggota komunitas.
Terdapat Rangga kaba: Mengacu pada tanduk kerbau jantan (kaba) yang diukir dan dipasang di puncak rumah adat Mbaru Gendang. Simbol ini juga dikenal sebagai mangka (gasing) dan memiliki makna yang terkait dengan kemampuan berpikir, bertindak, serta sebagai penanda penting bagi rumah adat tersebut, terutama pada jenis niang gendang yang khusus untuk menyimpan alat musik gendang.

KONSEP RUANG
Terdapat ruang-ruang dalam Mbaru Gendang mencerminkan kehidupan masyarakat:
Ngaung (Bagian bawah/kaki bangunan): Tempat penyimpanan hewan peliharaan seperti babi dan anjing.
Tenda atau Lutur (Lantai pertama): Ruang utama tempat keluarga tinggal dan beraktivitas sehari-hari.
Lobo (Lantai kedua): Loteng untuk menyimpan bahan makanan pokok dan keperluan sehari-hari, serta alat caci (permainan perang).
Lentar (Lantai ketiga): Digunakan sebagai tempat penyimpanan benih untuk bercocok tanam, seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan.
Lempa Rae atau Lempa Rea (Lantai keempat): Tempat menyimpan stok makanan cadangan untuk menghadapi musim kemarau panjang, gagal panen, atau masa paceklik.
Hekang Kode (Lantai kelima/tertinggi): Tingkat tertinggi yang dikhususkan untuk tempat sesaji bagi leluhur masyarakat desa, dan hanya digunakan saat acara penting seperti upacara pengatapan rumah.
TEKNIK KONSTRUKSI
Alih-alih menggunakan paku, pembuatan mbaru gendang menggunakan material atau ikatan bangunan yang lebih kuno. Para pekerja bangunan memanfaatkan tali rotan yang sangat kuat yang kemudian digunakan untuk mengikat dan menyambung komponen-komponen bangunan yang terbuat dari kayu worok dan bambu. Konstruksi tanpa paku ini membuat bangunan memiliki kekokohan yang lentur, sehingga lebih tahan terhadap guncangan gempa bumi.

FUNGSI MBARU GENDANG
Tempat Tinggal: Tempat tinggal para tetua adat dari garis keturunan tertentu.
Pusat Kegiatan Adat: Mbaru Gendang adalah tempat diselenggarakannya berbagai upacara adat, seperti upacara syukur panen (penti) dan penyelesaian masalah (caca mbolot).
Tempat Bermusyawarah: Rumah ini menjadi tempat musyawarah bagi para tua adat dan tokoh masyarakat untuk membahas kepentingan umum serta menyelesaikan konflik di kampung.
Kediaman Roh Leluhur: Mbaru Gendang dipercaya sebagai tempat tinggal dan bersemayamnya arwah nenek moyang serta roh-roh yang mengatur kehidupan masyarakat.
Simbol Persatuan: Rumah adat ini melambangkan persatuan antara yang hidup dan yang mati, serta antara manusia dengan Tuhan melalui persembahan pada elemen-elemen seperti lempo rae (mezbah).
Penyimpanan Benda Adat: Berbagai perlengkapan adat, termasuk alat musik gendang dan peralatan untuk tarian Caci (seperti cemeti larik dan perisai nggiling), disimpan di dalamnya.
Penjaga dan Pelestari Budaya: Mbaru Gendang berfungsi sebagai benteng pelestarian budaya, tempat di mana nilai-nilai dan tradisi Manggarai dijaga dan diteruskan dari generasi ke generasi.
Kesimpulan
Mbaru Gendang bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat kehidupan masyarakat Manggarai yang memiliki makna simbolik mendalam. Ia mewakili identitas kampung, tempat terjadinya perjumpaan antara manusia dan alam spiritual, serta menjadi simbol kesetaraan dan aspirasi bersama yang mengarah pada kepentingan serta kesejahteraan komunal. Keberadaan Mbaru Gendang sangat penting dalam menjaga keutuhan sosial dan spiritual masyarakat Manggarai.




